Kurikulum dan Guru Menurut Winarno Surakhmad

(Sedikit ulasan merujuk pada buku Prof. Winarno Surakhmad, Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi)

Cover Buku Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi

 

Judul                   : Pendidikan Nasional, Strategi dan Tragedi.
Penulis                : Prof. Winarno Surakhmad
Editor                  : St. Sularto
Penerbit              : Kompas, Jakarta
Tahun terbit       : 2009
Jumlah halaman : xxix+496

“[…] faktor guru yang kompeten dan berkualtias tidak dapat dinomorduakan, justru disebabkan guru termasuk unsur determinan yang utama yang banyak menentukan keberhasilan (dan kegagalan!) kurikulum.”
Prof. Dr. Winarno Surakhmad, MSc. Ed (2009: 78)

Kalau kita bertandang ke toko-toko buku terkenal atau ke lapak penjual buku bekas maupun baru di lantai bawah Blok M atau Senen misalnya, satu keluhan dari ibu-ibu yang membeli buku adalah: tiap semester anaknya yang masih sekolah mesti ganti buku, dan itu artinya sebagai orangtua ia harus mengeluarkan gocek yang cukup banyak. Ketika ditanya soal adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang khusus untuk keperluan buku-buku pelajarn, ternyata juga tidak banyak orangtua yang tahu menahu. Memang yang dicari mereka di toko dan lapak penjual buku kebanyakan adalah buku-buku pengayaan, namun bagi mereka apa beda buku teks dan pengayaan, juga buku referensi. Buku teks dan pengayaan terlihat tidak banyak beda, karena disamping formatnya relatif sama, isi materinya pun relatif sama. Banyak buku teks yang juga berisi soal tanya-jawab yang mestinya lebih banyak pada buku pengayaan, dan banyak pula buku pengayaan yang terdapat materi pelajaran plus soal tanya-jawab.

Di situlah kemudian banyak guru yang ketika mau praktisnya saja dan mungkin juga bisa dapat untung, maka ia lebih memilih buku pengayaan saja dan menjadikannya sebagai buku teks. Sedangkan buku teksnya sendiri disimpan di perpustakaan hingga berdebu dan rusak. Buku-buku pengayaan yang rata-rata adalah cetakan dari penerbit-penerbit terkenal itu kemudian seakan-akan justru menjadi kurikulum yang diacu dalam pembelajaran, dengan kata lain justru melangkahi kewenangan dan fungsinya sebagai buku pengayaan hingga menjadi lebih dari itu, yakni seakan-akan menjadi buku teks utama pelajaran dan bahkan “kurikulum bayangan” (shadow curriculum) yang menjadi acuan utama praktik pembelajaran. Hal ini terjadi tidak hanya karena guru relatif mau praktisnya saja dalam mengajar, tapi juga karena pertimbangan keuntungan finansial yang didapat guru apabila dia sukses untuk kerjasama antara penerbit dalam monopoli penjualan buku tersebut ke siswa-siswanya.

Bagi penerbit yang memang berorientasi profit, maka tiap semester bisa saja mengeluarkan buku berbeda untuk satu kelas yang sama pada semester yang sama pula. Kecil kemungkinan terdapat buku yang didesain dapat digunakan ulang hingga dapat digunakan ulang dari kakak kelas pada adik kelasnya ketika naik kelas nantinya. Sebenarnya buku yang didesain ulang untuk dapat digunakan ulang adalah buku teks, karena ia sebetulnya adalah rujukan utama dari proses pembelajaran. Jadi, buku kelas IV tingkat Sekolah Dasar (SD) semester pertama akan tetap dapat digunakan oleh banyak angkatan, jadi tidak sekali digunakan dan setelah itu dibuang. Dengan demikian, jika kita lebih jernih sebenarnya masalah ganti-ganti buku pelajaran di sekolah itu lebih karena terjadi kesalahan dalam memosisikan buku pengayaan sebagai buku teks dan kurikulum, bukan karena ganti-ganti kurikulum.

Namun sebenarnya, apakah pergantian kurikulum tetap diperlukan atau tidak? Karena zaman juga berubah, tantangan kehidupan juga berganti. Ganti Menteri Pendidikan berganti pula kurikulum mungkin memang bukan solusi, karena jelas menyusahkan orangtua siswa karena harus makin banyak membeli buku-buku baru—terutama pengayaan dan referensi—yang harganya pun juga makin mahal, lalu bagaimanakah mestinya kurikulum tersebut? Lebih dalam dari itu, bagaimanakah idealnya posisi kurikulum dalam sistem pendidikan nasional terutama di Indonesia sekarang ini? Karena sepertinya kurikulum telah menjadi prioritas dan perhatian utama dari birokrat pendidikan, yang ketika diubah saja entah oleh alasan apa, maka sebenarnya yang repot adalah guru, orangtua, dan tentu saja siswa. Pakar pendidikan nasional. Prof. Winarno Surakhmad, dengan bagus telah menguraikan pendapat dan gagasannya mengenai kurikulum dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan nasional: Strategi dan Tragedi” (2009).

Kurikulum dan Guru
Kurikulum bagi Prof. Win—panggilan akrabnya—tidaklah harus diutamakan dan prioritaskan ketimbang guru. Bahkan ketika kurikulum berada di tangan mereka yang tidak paham akan berbuah bencana, visi ideologis dan filosofis yang ingin disampaikan menjadi tidak tersampaikan, bahkan bias, terdistorsi atau bahkan ditumpangi oleh kepentingan pragmatis lain yang bisa saja berbuah hal-hal negatif.

“Ketika birokrat pendidikan memprioritaskan kurikulum di atas segala-galanya sebagai kunci peningkatan kualitas, unsur guru dinomorduakan. Ketika para perumus kurikulum menerjemahkannya dalam rumus-rumus operasional dan teknis, pandangan mereka tentang falsafah metafisik manusia, epistemologi ilmu, aksiologi nilai, etika, dan estetika menjadi kabur.” (Surakhmad, 2009: 67)

Selanjutnya Prof. Win menyatakan setidaknya terdapat empat faktor yang memengaruhi kebijakan kurikulum pendidikan nasional, yakni: (1) faktor dari birokrasi pendidikan, berupa harapan dan perlakuan berlebihan terhadap kurikulum; (2) faktor penyusun kurikulum, terutama lemahnya basis filosofis dan psikologis dalam penjabaran kurikulum; (3) faktor pelaksana kurikulum, yaitu tingkat profesionalitas guru; dan (4) faktor ekosistem pendidikan, berupa dukungan sosial dan ketersediaan infrastruktur pendidikan (Surakhmad, 2009: 67-68).

Publik dan para guru mungkin lebih familiar mengenalnya sebagai pelantun “puisi guru” dalam peringatan Hari Guru ke-60 di Stadion Manahan Solo (27/11/05) hingga membuat Wapres (waktu itu) Jusuf Kalla marah. Beliau dalam menulis buku memang tidak seproduktif Prof. Tilaar sebagai rekan, kolega, dan sahabat seangkatannya yang sama-sama konsen dalam kajian pendidikan. Namun bukan berarti komitmennya dalam membangun pendidikan Indonesia minim, terutama dalam masalah keguruan. Beliau adalah Prof. Dr. Winarno Surakhmad, MSc.Ed. yang pernah menjabat sebagai Rektor IKIP Negeri –sekarang Universitas Negeri— Jakarta dan sekarang sebagai penasehat PGRI.

Bukunya yang diterbitkan oleh Kompas dengan judul “Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi” ini merupakan kumpulan dari 16 makalah yang telah disampaikan oleh Prof. Win –panggilan akrabnya— selama beberapa tahun terakhir ini. Tema yang dibidik cukup luas, mulai dari fondasi filosofis pendidikan Indonesia, manajemen pendidikan nasional, dan tentu saja masalah keguruan. Gaya penulisan Prof. Win memang khas seorang orator ulung yang ketika membacanya seakan kita dibawa dalam sebuah dialog yang tidak membosankan. Ungkapan-ungkapan kadang menggelitik dan pedas. Pertanyaan retoriknya pun merangsang pembaca untuk bertanya lebih dalam mengenai realitas pendidikan dan kemudian mengiyakan apa kata Prof. Win.

Tulisan Prof. Win dalam buku ini adalah api pemantik kesadaran kritis yang semestinya dimiliki oleh semua guru dan peminat kajian pendidikan. Beliau tidak sekadar membongkar tragedi pendidikan di Indonesia, lebih jauh masalah pendidikan tersebut dikaji secara mendalam sampai para akar masalahnya, bahkan sampai pada dasar filosofis dan ideologisnya. Minimnya kepekaan guru dan pendidik lainnya dalam melihat dan mengkaji secara serius pendidikan nasional salah satunya disebabkan oleh minimnya literatur (buku-buku) yang membongkar masalah pendidikan secara jelas. Guru agaknya lebih tertarik membaca “buku panduan” mengajar, materi pelajaran, evaluasi, dan sejenisnya. Hal itulah yang menjadikan mereka tidak banyak tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik praksis pendidikan selama ini.
Buku Prof. Win ini adalah karya yang mencoba untuk menjadi referensi “pembuka” bagi para guru dan pendidik lainnya.

Keberhasilan buku ini adalah ketika pembacanya menjadi tergelitik, gelisah, dan kemudian berupaya mencari kebenaran dari apa yang diungkapkan oleh penulis. Menjadi sadar untuk tidak merasa nyaman dalam situasi sekarang agaknya adalah tujuan dari Prof. Win dalam menulis paper-paper yang terkumpul dalam buku ini. Kenyamanan para pendidik itulah yang memang harus diusik, tanpa adanya kegelisahan terhadap kondisi lingkungan pendidikan, maka kesalahan dan kesesatan dalam praksis pendidikan akan dianggap hal yang lazim. Dan pada akhirnya, praksis pendidikan akan kian jauh dari upaya perbaikan diri yang fundamental.

Satu keunggulan dari buku Prof. Win, di samping sentilan dan sindiran kritisnya adalah: membuat perbandingan kontras oposisional antara satu fakta dengan fakta lain, antara satu konsep dengan konsep lain, secara berhadap-hadapan. Upaya untuk menunjukkan bahwa suatu fenomena pendidikan dan/atau kebijakan pendidikan bermasalah dilakukan dengan membuat permainan oposisi biner dan retorika berbahasa yang halus menyindir. Misalnya dalam membangun kesadaran perlunya perubahan dalam praksis pendidikan, Prof. Winarno membandingkan dan mempertentangkan antara: ketergantungan pada bantuan luar versus kemampuan untuk mandiri; kehidupan yang dogmatis versus kehidupan yang rasional; berpegang pada tradisi versus merintis sesuatu yang inovatif (hlm. 24).

Jika dilihat lebih cermat, maka tulisan Prof. Win tidak banyak merujuk pada referensi teoritis dari tulisan lain, termasuk dari literature pedagogi kritis. Apakah hal itu kemudian disebut sebagai kelemahan atau kelebihan, terserah pada pembaca untuk menilainya. Namun satu hal dari keunikan tersebut justru menunjukkan bahwa Prof. Win menulis berdasarkan naluri intelektual dan daya kritis yang sangat kuat. Dari banyak ungkapan dan deskripsi-naratif yang ia berikan dalam membedah persoalan dalam tulisannya di buku ini terlihat betapa kaya pengalaman kependidikan yang telah ia alami. Pengalaman sepanjang hayat itulah yang menjadi dasar Prof. Win untuk mengambil simpulan-simpulan yang cukup tajam dalam tulisannya. Dengan kata lain, dari observasi dan pengalaman yang ia alami sendiri itulah Prof. Win merumuskan simpulan hingga konsepsi teoritis yang cukup tajam dan valid, sekaligus menggelitik kesadaran kita.

Prof. Win memang agaknya bukanlah intelektual teknokrat sekarang ini, ia agaknya sudah dapat dikatakan sebagai filosof pendidikan karena setidaknya ungkapan bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat substantif, dalam, dan bahkan puitis. Karena itulah, banyak bagian paragraf dari tulisannya yang layak kutip. Tulisannya tidak terkesan menggurui, lebih dari itu bahkan membangkitkan kesadaran pembaca akan realitas pendidikan. dalam banyak bab di buku ini Prof. Win menekankan pada perspektif non-teknis dalam membahas soal Undang-Undang Guru dan Dosen dan sejumlah masalah lainnya. Orientasi ke hal-hal yang lebih subtansial, mendalam dan kritis inilah yang tidak banyak dimiliki oleh para teknokrat dan birokrat pendidikan sekarang dalam menulis sebuah kebijakan.

Kembali pada salah satu sasaran utama dari buku ini, yakni guru, maka jadi guru akan mendapatkan dorongan untuk berpikir lebih jauh dan fundamental, tidak sekadar menerima kondisi pendidikan dan persekolahan apa adanya, tidak sekadar menerima sebuah kebijakan tanpa membacanya secara kritis konseptual dan implikasinya. Bagi guru-guru yang tidak merasa penting membahas masalah-masalah substansial, dan lebih memperhatikan hal-hal teknis dan praktis pembelajaran, buku ini memang wajib dibaca. Keringnya diskursus ilmu pendidikan di kalangan guru sekarang menunjukkan bahwa mereka rata-rata memang tidak memiliki kesadaran bagaimana menjadi guru intelektual, guru yang selalu mencari dan menambah pengetahuan baru. Kondisi inilah yang harus didobrak, dan agaknya bagi Prof. Win, dimulai dari diri guru itu sendiri. []

Oleh Edi Subkhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s