Sekilas Antara Berpikir Kritis (Critical Thinking), Kreativitas dan Teori Kritis

Karikatur critical thinking
Karikatur critical thinking

Berpikir kritis (critical thinking) di sini pengertiannya lebih dekat pada berpikir kreatif ketimbang Teori Kritis (critical theory). Banyak orang yang menganggap bahwa berpikir kritis sama dengan Teori Kritis, padahal jelas berbeda karena berangkat dari titik fokus yang berbeda. Dalam sebuah kajian serius yang membandingkan antara berpikir kritis dan pedagogi kritis (critical pedagogy)—yang berakar dari tradisi Teori Kritis—Nicholas Burbules dan Rupert Berk menyatakan:

The Critical Thinking tradition concerns itself primarily with criteria of epistemic adequacy: to be “critical” basically means to be more discerning in recognizing faulty arguments, hasty generalizations, assertions lacking evidence, truth claims based on unreliable authority, ambiguous or obscure concepts, and so forth. For the Critical Thinker, people do not sufficiently analyze the reasons by which they live, do not examine the assumptions, commitments, and logic of daily life.[1]

Jadi, berpikir kritis lebih konsentrasi dalam mengkaji kesalahan logika berpikir, juga konsep-konsep yang ambigu. Berpikir kritis dengan demikian adalah berpikir di luar kewajaran (thinking out of the box) yang dilakukan banyak orang. Dengan kata lain tidak berpikir secara linier, melainkan unlinier sebagai bentuk kritik logika berpikir awam.

Nicholas Burbules dan Rupert Berk menyatakan bahwa perangkat berpikir kritis utamanya adalah kemampuan logika formal dan informal, analisis konseptual dan epistemologis. Nicholas Burbules dan Rupert Berk juga mengutip Harvey Siegel yang menyatakan bahwa, “Critical thinking aims at self-sufficiency, and a self-sufficient person is a liberated person…free from the unwarranted and undesirable control of unjustified beliefs.”[2]

Berpikir kritis inilah yang membuahkan nalar kreatif di sisi lain. Ketika berpikir kritis berupaya untuk mengkritik kesalahan logika berpikir, maka di sisi lain dengan pola pikir yang sama—yakni pola pikir yang tidak linier dan berpikir dari perspektif lain yang berbeda dari awam—berpikir kritis dapat membuahkan gagasan kreatif tertentu. Lebih lanjut Rob Pope menyatakan bahwa definisi kreativitas secara umum cenderung pada konsep “kreativitas” sebagai sesuatu yang baru dan bernilai (new and valuable) atau ide baru yang dapat diterima atau layak/patut (novel and appropriate).[3]

Dengan mengutip Sternberg (1993) Rob Pope juga menyatakan bahwa, “‘Creativity is the ability to produce work that is both novel (i.e. original, unexpected) and appropriate (i.e. adaptive concerning task constraints),” bahwa kreativitas secara umum merupakan ide-ide baru yang bernilai, orisinal, juga tepat dan adaptif sebagai solusi masalah yang sedang terjadi.[4] Dengan kata lain, kreativitas adalah upaya mengkreasi (to create) atau mencipta ide-ide baru, bisa juga disebut inovasi, cara atau strategi baru untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memecahkan masalah-masalah yang timbul. Di sinilah karakterisitk kreatif adalah mencipta ide-ide baru yang bernilai.

Di sisi lain, Teori Kritis berangkat dari titik fokus yang berbeda, bahwa Teori Kritis merupakan serangkaian gagasan dan kritik yang ditujukan terhadap pengetahuan, sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan lainnya yang telah membuahkan banyak problem sosial. Teori Kritis melihat fenomena sosial secara lebih luas dan total dari kacamata kelas sosial (social class), struktur kekuasaan (power) masyarakat, kepentingan ekonomi dan politik dan lainnya sebagaimana awalnya digerakkan oleh para teoritisi Mazhab Frankfurt seperti Herbert Marcuse, Max Horkeimer, Theodor Adorno, Jürgen Habermas dan lainnya.[5]

Jika dilihat karakteristik dan kecenderungannya, maka Teori Kritis memang selalu mewaspadai kemungkinan berlangsungnya praktik diskriminasi, ketidakadilan, perbebutan otoritas kekuasaan, indoktrinasi nilai-nilai dan pengetahuan tertentu untuk tujuan tertentu dan lainnya. Teori Kritis selalu melihat sebuah fenomena atau fakta sosial tertentu tidak lepas dari fakta sosial lain, baik secara struktural maupun kultural. Teori Kritis dengan demikian berupaya untuk mengkritik dan membongkar praktik-praktik tersebut, agar pengetahuan menjadi terbuka untuk dikritik, direvisi dan diperbaiki, agar tidak terjadi praktik diskriminasi, ketidakadilan, dan monopoli serta manipulasi kebenaran.

Di sisi lain, Teori Kritis dalam pendidikan telah membuahkan formulasi konseptual dan praksis pedagogi kritis sebagaimana dibawakan oleh Paulo Freire, Michael Apple, Peter McLaren, Henry Giroux dan banyak lagi lainnya. Tujuan utama pedagogi kritis adalah membangun kesadaran kritis (critical consciousness) seseorang.[6] Kesadaran kritis itulah modal utama untuk membangun sebuah gerakan emansipatoris membela yang lemah, melawan praktik penindasan, ketidakadilan sosial, eksploitasi manusia, diskriminasi ras, etnis, agama dan sejenisnya. Di sinilah Teori Kritis dan pedagogi kritis orientasinya lebih luas terbentang pada konteks sosial masyarakat, tidak seperti fokus berpikir kritis yang sempit pada individu saja.

Oleh Edi Subkhan.

End Notes:

[1] Nicholas C. Burbules and Rupert Berk, “Critical Thinking and Critical Pedagogy: Relations, Differences, and Limits” in Thomas S. Popkewitz and Fendler (eds.), Critical Theories in Education (New York: Routledge, 1999), diunduh pada 17 Januari 2011 dari (http://faculty.ed.uiuc.edu/burbules/papers/critical.html).

[2] Ibid.

[3] Rob Pope, Creativity: Theory, History, and Practice (London & New York: Routledge, 2005), p. 57.

[4] Ibid.

[5] Fred Rush (ed.), The Cambridge Companion to Critical Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), lihat juga F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jϋrgen Habermas (Yogyakarta: Kanisius, 2009).

[6] Peter McLaren &Peter Leonard (eds.), Paulo Freire: A Critical Encounter (London & New York: Routledge, 1993).

One thought on “Sekilas Antara Berpikir Kritis (Critical Thinking), Kreativitas dan Teori Kritis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s